Advertisement
01
AGUSTUS 2026 19:33 WIB
PENDIDIKAN 3,850 Kali Dilihat

GCC Indonesia dan UPY Dorong Pendidikan Vokasi Berwawasan Global

Dedy

Dedy

Penulis

GCC Indonesia dan UPY Dorong Pendidikan Vokasi Berwawasan Global
Peserta Focus Group Discussion (FGD) membahas penyempurnaan draf Modul Global Citizenship Education for TVET di Universitas PGRI Yogyakarta, Sabtu (1/8/2026). Foto: Istimewa

BIPOL.ID, YOGYAKARTA, -- Dunia kerja yang terus berubah akibat digitalisasi, perkembangan kecerdasan artifisial, dan meningkatnya mobilitas global menuntut lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) tidak hanya menguasai keterampilan teknis. Mereka juga dituntut memiliki karakter, kemampuan beradaptasi, kepedulian sosial, serta kesadaran sebagai warga negara dan warga dunia. 

Berangkat dari kebutuhan itu, Global Citizenship Education Cooperation Centre Indonesia (GCC Indonesia) bersama Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menyempurnakan Modul Global Citizenship Education for Technical and Vocational Education and Training (GCED for TVET) melalui Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Kampus UPY, Yogyakarta, Sabtu (1/8/2026).

Forum tersebut mempertemukan akademisi bidang pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan vokasi untuk menelaah substansi modul, mulai dari materi pembelajaran, aktivitas peserta didik, instrumen asesmen, hingga kesesuaiannya dengan kebutuhan dunia industri dan tantangan pekerjaan masa depan.

Direktur GCC Indonesia, Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si., mengatakan pendidikan vokasi perlu mengalami transformasi agar mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu mengambil keputusan secara etis dan bertanggung jawab di tengah masyarakat yang semakin kompleks.

"Lulusan SMK tidak hanya harus mampu bekerja, tetapi juga memahami nilai, tanggung jawab, dan dampak dari pekerjaan yang dilakukannya. Mereka perlu tumbuh sebagai tenaga profesional yang berkarakter Pancasila sekaligus warga dunia yang bertanggung jawab," ujar Dasim.

Menurutnya, pendidikan kewargaan global menjadi bagian penting dalam pendidikan vokasi karena dunia industri saat ini membutuhkan sumber daya manusia yang mampu bekerja lintas budaya, menghargai keberagaman, peduli terhadap lingkungan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Pendekatan Pembelajaran Aktif

Rektor UPY Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P., menilai keberhasilan sebuah modul tidak hanya ditentukan oleh kualitas materi, tetapi juga oleh cara materi tersebut disampaikan kepada peserta didik. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran harus mampu membuat siswa aktif, berpikir kritis, dan menikmati proses belajar.

Salah satu pendekatan yang dinilai sesuai adalah model RADEC (Read, Answer, Discuss, Explain, Create). Melalui tahapan tersebut, siswa diajak membaca berbagai sumber, menjawab persoalan, berdiskusi, menjelaskan gagasan, hingga menghasilkan solusi atas persoalan yang ditemui dalam kehidupan maupun dunia kerja.

"Pembelajaran bagi siswa SMK harus menyenangkan, kontekstual, dan memberi kesempatan kepada mereka untuk berkarya. Model seperti RADEC dapat membuat siswa lebih aktif sekaligus menikmati proses belajarnya," kata Paiman.

Belajar Tidak Berhenti pada Pengetahuan

Narasumber dari UPY, Assoc. Prof. Dr. Septian Aji Permana, M.Pd., menilai rancangan modul telah mengarahkan peserta didik untuk belajar secara utuh, tidak berhenti pada penguasaan konsep.

Ia menggambarkan filosofi pembelajaran tersebut melalui ungkapan Jawa "Ngerti, Ngroso, lan Nglakoni." Ngerti berarti memahami persoalan, ngroso berarti memiliki empati terhadap persoalan tersebut, sedangkan nglakoni berarti mewujudkan pemahaman itu dalam tindakan nyata.

"Pembelajaran GCED tidak cukup membuat siswa mengetahui suatu persoalan. Mereka juga perlu memiliki kepedulian dan keberanian untuk bertindak sebagai bagian dari solusi," katanya.

Pandangan serupa disampaikan dosen UPY Bayu Gilang Purnomo, S.Pd., M.Pd. Menurutnya, pendekatan RADEC membuat pembelajaran isu-isu kewargaan global lebih dekat dengan pengalaman peserta didik vokasi sehingga materi tidak terasa abstrak. Ia menilai modul tersebut juga berpotensi dimanfaatkan sebagai referensi dalam pendidikan vokasi di perguruan tinggi.

Menyesuaikan Kebutuhan Industri

Berbagai masukan disampaikan dalam FGD untuk memperkuat relevansi modul terhadap kebutuhan dunia kerja. Akademisi Universitas Ahmad Dahlan, Dr. Dikdik Baehaqi Arif, M.Pd., menilai kekuatan modul terletak pada keberhasilannya memadukan dimensi pengetahuan, sosial-emosional, dan perilaku dalam kerangka pendidikan kewargaan global. Nilai-nilai Pancasila juga dinilai telah terintegrasi secara substantif dalam setiap aktivitas pembelajaran.

Namun, menurutnya, modul masih perlu diperkaya dengan ilustrasi visual, infografis, foto autentik, serta contoh kasus yang lebih dekat dengan kehidupan siswa di bengkel, laboratorium, praktik kerja lapangan, maupun lingkungan industri.

Selain itu, ia mengusulkan penguatan materi mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3), regulasi ketenagakerjaan, keamanan siber, perlindungan data pribadi, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial secara bertanggung jawab.

Masukan senada disampaikan dosen Universitas Negeri Yogyakarta Dr. Budi Mulyono, M.Pd. Ia menilai nilai-nilai Pancasila perlu ditegaskan sebagai kompas moral dalam setiap tema pembelajaran. Konsep kewargaan digital juga perlu diperluas agar siswa memahami etika bermedia digital, keamanan data, serta dampak sosial dari perkembangan teknologi.

Menjawab Persoalan Nyata

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai usulan yang berorientasi pada praktik. Ir. Yulia Venti Yoanita, S.T., M.Eng., menekankan pentingnya menghadirkan persoalan teknis yang benar-benar dihadapi siswa di lapangan, sehingga mereka belajar mengambil keputusan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan, keberlanjutan lingkungan, kebutuhan pengguna, dan tanggung jawab sosial.

Sementara itu, Didik Rohmantoro, S.Pd., M.Pd., mengusulkan agar modul memperkenalkan dinamika tenaga kerja di kawasan perkotaan agar lulusan SMK lebih siap menghadapi perubahan budaya kerja, persaingan, dan adaptasi sosial.

Peserta lainnya juga mengusulkan agar materi diperkaya dengan isu transformasi digital, green skills, ekonomi sirkular, kendaraan listrik, keamanan siber, serta kecerdasan artifisial yang dikaitkan dengan karakteristik setiap bidang keahlian. Contoh pembelajaran diharapkan lebih banyak diambil dari situasi nyata, seperti pengelolaan limbah di bengkel otomotif, efisiensi energi di bidang teknik, pengurangan food waste pada tata boga, maupun perlindungan data pada bidang informatika.

Menyiapkan Lulusan Masa Depan

FGD menghadirkan empat narasumber, sejumlah akademisi dari GCC Indonesia, Universitas PGRI Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Negeri Yogyakarta, serta mahasiswa magang GCC Indonesia. Secara umum, para peserta menilai draf Modul GCED for TVET telah memiliki fondasi konseptual dan pedagogis yang kuat. Penyempurnaan selanjutnya diarahkan pada penguatan konteks vokasi, penyajian kasus autentik, penyempurnaan sistem asesmen, serta penyesuaian dengan dinamika dunia kerja masa depan.

Hasil diskusi akan menjadi bahan bagi tim penyusun untuk menyempurnakan modul sebelum diimplementasikan secara lebih luas. Modul tersebut diharapkan menjadi salah satu rujukan pembelajaran yang mampu menyiapkan lulusan SMK tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga berkarakter Pancasila, memiliki kepedulian sosial, berwawasan global, dan mampu mengambil keputusan secara etis dalam kehidupan maupun dunia kerja. (ADS/ujn)

Tinggalkan Komentar

1000 Karakter tersisa

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Iklan Banner Bawah